• Media Sosial:
SBMPTN

SBMPTN (3)

Kompetensi Guru Indonesia Masih Memprihatinkan

16 March 2016 by 88751 Comment SBMPTN 4150 Views
Bill Clinten

Written by

Edupost.id – Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim menyebut, kompetensi guru di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Kenyataan ini telah membuka mata banyak pihak, peningkatan kompetensi guru menjadi hal yang sangat mendesak dilakukan. Dalam keterangan pers yang diterima Edupoist.id, Sabtu (20/8), Ramli menjelaskan, rendahnya kompetensi guru ini terlihat pada hasil Uji Kompetensi Guru (UKG). Dalam UKG yang hanya mengukur 2 dari 4 kompetensi dasar guru ini terlihat jelas bahwa hanya ada 6% lebih dari 2,6 juta guru yang dinyatakan lulus dan tak perlu dilatih lagi. Ketika data seleksi CPNS guru dibuka, ada calon guru yang hanya bisa menjawab 1 benar dari 40 soal bahkan ada calon guru yang hanya mampu menjawab 5 benar dari 100 soal seleksi. Sayangnya, tidak banyak pihak yang memperhatikan kualitas guru Indonesia. Banyak perusahaan-perusahaan besar mengarahkan dana CSR-nya untuk pengembangan kemampuan siswa. Pemerintah pun dulunya jauh lebih fokus pada peningkatan kemampuan dan fasilitas belajar siswa dibanding gurunya. “Padahal kita di belakang hari menemukan bahwa siswa jauh berkembang, guru semakin tertinggal. Dulu ketika kita berbicara kompetensi guru apalagi bercerita tentang mendidik guru membangun bangsa, begitu banyak yang tidak terima karena dianggap melecehkan guru,” ujar Ramli. Teknologi semakin maju, pengetahuan siswa tumbuh semakin pesat, bahkan melampau tuntunan jaman. Tak jarang, ketika guru mengajar di kelas, siswanya ternyata lebih tahu dari gurunya, bahkan siswanya memiliki referensi lebih kuat dari gurunya. Di sanalah kewibawaan guru mulai luntur. Di sanalah penghormatan sebagai sumber ilmu mulai kendor, di sanalah siswa mulai mengurangi keyakinannya terhadap guru. Mendikbud Muhadjir Effendy dalam pidato hari kemerdekaan menitikberatkan pada 3 hal yaitu pendidikan karakter, KIP untuk Education For All dan Pendidikan Vokasi. Tiga hal ini, menurut Ramli, didukung sepenuhnya oleh IGI. Tapi tentunya banyak hal yang membutuhkan kajian mendalam tentang ketiga hal tersebut. “Pendidikan karakter harus maksimal bukan hanya bercerita soal FDS dan pengurangan jam mengajar guru menjadi 12 jam. KIP yang tidak tepat sasaran lalu mencabut pendidikan gratis malah akan meningkatkan angka putus sekolah, sementara pendidikan vokasi yang jauh dari industri akan melahirkan lulusan tak siap pakai,” terangnya.(Andi)
Read more...

Guru Perlu Ajak Siswa Pilih Konten Positif di Internet

15 March 2016 by 58210 Comment SBMPTN 4427 Views
Bill Clinten

Written by

Edupost.id – Keberadaan internet dapat dipandang dari dua sisi. Untuk mencari informasi positif, dapat menggunakan internet. Kalau mencari hal yang negatif juga bisa. Perlu kehati-hatian dalam penggunaan internet. Terlebih, dalam dunia pendidikan, internet hendaknya dapat menjadi sumber informasi positif dengan menyaring konten-konten negatif. Hal ini disampaikan oleh Direktur Pemberdayaan Informatika, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kemkominfo, Septriana Tangkary dalam acara Pelatihan Agen Perubahan Informatika untuk Internet Cerdas, Kreeatif, dan Produktif (Internet Cakap). Pelatihan ini atas kerjasama Kemkominfo, Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY), dan Ikatan Guru Indonesia (IGI) DIY. Peserta pelatihan ini adalah guru dari DIY dengan jumlah 300 orang. “Untuk kebaikan internet bisa dimanfaatkan, kalau mau untuk yang begatif juga bisa. Yang kita harapkan dari adanya Pelatihan Agen Perubahan Informatika untuk Internet Cerdas, Kreeatif, dan Produktif ini dapat memberikan masukan kepada guru dan orang tua untuk memilih konten – konten yang baik, konten yang bermanfaat bagi anak – anak kita,” ungkap Septri. Untuk itu, Septri mengajak guru di DIY agar menanamkan siswanya untuk menggunakan internet secara positif. Karena, dalam dunia pendidikan seharusnya internet bermanfaat jika disaring dengan baik. Internet dengan konten poisitif tentunya akan dapat menjadi sumber belajar. Selain itu, Septri berharap, generasi muda Indonesia tidak hanya menjadi pemakai internet. Namun, juga harus mampu membuat inovasi. Menurutnya, generasi muda Indonesia harus kreatif dalam hal positif. “Kita bukan hanya pemakai, tapi anak Indonesia juga bisa menciptakan game, menciptakan aplikasi,” imbuhnya. Untuk itu, Septri berharap guru dapat kreatif dan mampu merangsang siswanya untuk berani berinovasi. Inovasi ini dimulai dengan membuat sesuatu yang sederhana tetapi bermanfaat bagi lingkungan sekelilingnya. Ia mencontohkan, permainan tradisional Indonesia seperti egrang dan kelereng bisa dibuat game edukatif. Septri juga mengatakan, dipilihnya Yogyakarta untuk menggelar pelatihan ini karena Yogyakarta adalah kota pelajar. Selain itu, melihat guru-guru Yogyakarta sangat kreatif dan ingin maju dalam bidang IT. Semoga guru-guru di Jogja dapat getok tular terhadap guru daerah lain,” harapnya. (Andi)
Read more...

Guru Mengajar Pelajaran Apapun, Harus Gunakan Teknologi

15 March 2016 by 15929 Comment SBMPTN 5198 Views
Bill Clinten

Written by

Edupost.id – Sudah saatnya guru- guru Indonesia menggunakan Teknologi Informasi (IT) dalam mendukung pembelajaran siswa. Guru dalam hal ini dituntut untuk melek IT agar dapat mengenalkan IT kepada siswanya sebagai media pembelajaran yang bermanfaat. Hal ini dikatakan Praktisi IT Indonesia, Michael Sunggiardi. “Seharusnya, mata pelajaran apapun, di dalamnya harus ada IT-nya. Guru IPS, masukkan aspek internet ke dalam mata pelajarannya, guru agama masukkan aspek internet ke dalam mata pelajarannya. Caranya bagaimana memasukkan aspek internet ke mata pelajarannya? Minta bantuan ke guru TIK,” terang Michael saat menjadi pemateri Pelatihan Agen Perubahan Informatika untuk Internet Cerdas, Kreeatif, dan Produktif (Internet Cakap). Di sini perlu ada prinsip kerjasama antar guru dalam membuat konten pembelajaran. Guru TIK berperan membantu guru lain mengaplikasikan internet dalam mata pelajaran masing-masing. Pria yang menjadi konsultan IT di beberapa lembaga ini mencontohkan, pada mata pelajaran agama, guru bisa membuat video yang berisi aktivitas keagamaan. Hal ini bisa menjadi sumber belajar siswa yang menyenangkan. Dikatakannya, konten pendidikan yang ada di Indonesia sebenarnya berjumlah banyak. Hanya saja belum semuanya terkumpul dalam satu repository. Hal ini menyebabkan belum semua konten yang pernah dibuat bisa diakses melalui internet di seluruh Indonesia. “Sangat banyak. Hanya saja masih menyebar di laptop Bapak Ibu Guru. Belum dikumpulkan dalam satu repository,” katanya. Pemerintah diakuinya sudah membuat situs rumah belajar yang memungkinkan dapat mengakses konten pendidikan itu secara online. Namun, keberadaannya masih belum maksimal. Guru, menurut Michael, menjadi ujung tombak di lapangan dalam program pemanfaatan internet dalam pembelajaran. Untuk itu, ia berpesan kepada guru untuk tak pernah berhenti belajar, khususnya di bidang IT. “Pesan cuma satu, para guru ayo belajar. Dan nyatanya mereka mau belajar,” katanya. (Andi)
Read more...

Tertarik untuk Daftar?